Perasaan Bersalah

Pernah ga sih lo ngerasa amat sangat bersalah setelah lo berbuat salah sama seseorang ?

Pasti pernah . Karena setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan.

Hari ini gue belajar tentang pernyataan “sikap orang itu tergantung bagaimana kamu menyikapi dia”

Ketika lo melakukan kesalahan dan berimbas negatif ke orang lain, pastinya lo akan merasa bersalah . Tapi rasa bersalah itu akan terasa berlipat ganda, ketika orang yang mendapatkan dampak dari kesalahan lo, malah bersikap seperti tidak ada apa-apa .

Yang ada dipikirkan gue adalah , “Hey!! You should be angry. Be mad at me. But why ?”

Gue bingung . Bingung harus gimana. Gue berharap dicaci-maki, tapi engga. Gue minta maaf, menurut dia ga perlu. Terus gue mesti gimana??

Rasanya gue mau lari. Mau kabur. Malu. Tapi yang ada gue seperti lari dari kesalahan.

Disitu gue mikir.

Terkadang kesalahan itu bukan untuk dimaafkan. Bukan tentang lo harus dipermalukan, dicaci, atau dihukum atas kesalahan lo. Tapi bagaimana lo belajar bahwa apa yang lo lakukan akan berdampak pada orang lain dan kalau lo peduli dengan lingkungan lo, lo harusnya berpikir sebelum bertindak.

Percuma meminta maaf dan dimaafkan ratusan kali. Tapi tidak ada penyesalan dan terulang lagi dikemudian hari.

Hadapi kenyataan, terima dampak dari kesalahan. Jadikan pelajaran yang tak boleh dilupakan.

 

 

 

11 Agustus 2017 .

Kurnia Triastuti – 22thn

 

 

 

About

Pesan yang tertinggal

Source: About

Motivasi | Motivation

Semua orang pasti punya mimpi dan cita-cita. Memiliki tujuan hidup yang ingin mereka gapai. Jalan untuk meraihnya pun berbeda-beda. Ada yang singkat dan mudah, ada juga yang membutuhkan waktu lama dan penuh rintangan.

Walau terkadang tidak mudah, kita harus tetap bertahan. Cobaannya pun beragam. Ada yang diuji dengan kesulitan, kekurangan, dengan rasa sakit. Tapi ada juga yang diuji dengan kesenangan, kekayaan, hidup yang makmur. Bagaimana bisa? Ya. Iman seseorang pun diuji ketika ia berada diatas. Apakah ia akan tetap menundukan kepala kepada Tuhannya, atau malah lupa.

Untuk itu, kita harus memiliki motivasi yang kuat. Alasan mengapa kita melakukan ini semua, alasan kenapa kita harus rela mengeluarkan keringat, jatuh, menahan sakit, lalu bangkit lagi. Alasannya pun harus cukup untuk mendorong semangat juang kita. Agar kita tak putus asa dan berhenti ditengah jalan.

Motivasinya bisa jadi beragam. Bisa jadi karena orang tua. Ingin memberikan tempat tinggal yang layak untuk kedua orang tua, atau ingin mengajak orang tua pergi ke Tanah Suci. Bisa juga karena anak-anak kita kelak. Ingin memberikan kehidupan yang layak demi anak-anak kita dimasa depan. Tidak ingin anaknya merasakan susah seperti yang dirasakan orang tuanya terdahulu.

Bahkan ada juga yang menjadikan impian itu sendiri menjadi motivasi. Menjadikan impiannya satu titik didepan, tempat yang menjadi tujuan akhirnya. Hingga ia tak akan membiarkan apapun menghalangi dan menghentikan langkahnya. Sebuah pembuktian diri bahwa ia bisa dan mampu untuk membesarkan impiannya.

Bersamaan dengan itu semua, yang terpenting adalah jangan lupa berdoa. Ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beribadah, mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Dia tempat meminta dan Maha Pemberi Segalanya. Dengan-Nya, semua akan terasa lebih mudah untuk dijalani. Ketika engkau lelah, maka berisitirahatlah. Tapi jangan lupa untuk mulai lagi. Bismilah

******

Everyone has dreams and their goals. Having a purpose in life that they want to reach. The way to reach it was different. Sometimes it’s fast and easy, others take longer and full of obstacles.

Although sometimes it is not easy, we have to stand out. The trial were varied too. It could be a hardship, deficiency, or pain. But It could also a pleasure, wealth, prosperous life. Seriously? Yes. Someone’s faith was tested when he’s above. Whether he will remember to  lowered her head to his Lord, or even forgotten.

That’s why we must have a strong motivation. The reason why we done all of this, the reason why we must be waste our sweat, falls, pain, and rose again. And the reason must be strong enough to push our morale. So we do not get discouraged and stop.

The motivation may be different. It could be because our parents. We want to give a better house for our parents, or we would like to bring out them  to go to the Holy Place. It could also be because our children on the future. We want to give them a decent life for their sake. We didn’t want our son to feel hard as perceived like his parents before.

Even somepeople who made the dream itself as a motivation. They making their dreams a point ahead, a place that became the final destination. He was not going to let anything deter and stopped him. A self-evident that he could and was able to raise his dream.

Along with all, the most important thing is do not forget to pray. Remember to God. Worship, try to make you closer to God.  With God, all will be easier to be passed. When you’re tired, then breather. But do not forget to start again. In the name of God

 

 

 

Kurnia Triastuti . Jakarta, 9 Juli 2016

— Ketika pertanyaan mengenai masa depan menjadi hal tersulit untuk dipecahkan —

— When the questions about the future be the hardest to solve —

 

 

Biarkan Dunia Melihatku

Sakit hati. iya.

 

Beberapa hari lalu, aku mengikuti seleksi pelatihan kelas Public Speaking di suatu organisasi. Mengingat aku memang memiliki minat dibidang tersebut, lolos seleksi tersebut adalah sesuatu yang aku nanti-nantikan.

 

Sampai pada waktunya pengumuman, aku ternyata tidak lolos. Sakit hati? Iya. Kecewa? Pasti. Seakan alam segan memberikan kesempatan baik itu.

Tapi apa mau dikata, bukan rezekiku.

 

Kemudian itu jadi membuat aku berpikir, apa yang salah? kenapa aku tidak terpilih?

 

Berpikir dan terus berpikir hingga aku sampai pada satu kesimpulan (selain memang bukan rezekiku). Aku kira mungkin karena mereka melihatku tidak  kompeten dibidang tersebut. Melihat para peserta yang lolos, aku merasa aku tidak ada apa-apanya. Aku merasa tidak seperti mereka.

 

Aku yang terlalu tertutup, mungkin membuat orang tidak bisa benar-benar “melihat” dalam diriku.

 

Kesimpulannya? Mungkin aku harus belajar terbuka. Terbuka dalam menerima hal baru, membuka diri untuk energi-energi positif dari alam. Menyerap hal-hal baik, dan menjadikan dirimu baik dengannya.

 

Belajar melihat dan menerima seisi dunia, dan biarkan dunia melihat kedalammu.

 

Sendiri

Jakarta, 02 November 2015.

Hari ini sudah tak terhitung berapa kali aku duduk ditempat ini. Sebuah kursi di pinggir ruangan dimana aku bisa melihat keseliling ruangan dengan sempurna.

Melihat orang-orang yang tak kukenal berlalu lalang . Sebagian besar mereka sedang menikmati hari libur bersama keluarga, sebagian lainnya hanya menghabiskan waktu berbincang dengan kawan-kawan mereka.

Aku? Ditengah keramaian dan diantara hiruk pikuk disini, aku hanya sendiri. Hhh.. Terlihat kesepian mungkin. Tapi tidak.

Aku menikmati setiap waktu saat aku sendiri. Dimana aku bisa berfikir tentang apa yang ingin dan akan aku lakukan.

Sebagian besar orang menilai aku tidak cukup bergaul dan hanya memiliki sedikit koneksi. Tidak juga. Aku memang bukan orang yang memiliki teman dimana mana. Tapi aku kenal banyak orang.

Hanya saja aku tidak ingin terlalu dekat dengan mereka. Hanya dekat, tapi tidak terlalu dekat. Karena menjadi terlalu akrab dengan seseorang membuatku merasa terikat.

Jadi kuputuskan untuk membuat dinding pemisah didalam arenaku. Agar sedekat apapun aku dengan orang lain, aku tetep memiliki “wilayah aman” untuku sendiri.

Tak ada salahnya kan?

Percaya?

Ada saat dimana kau merasa lebih baik tidak mengenal seseorang yang kau kenal.

Maka akan jauh menenangkan jika tak perlu bicara pada dia yang hanya membuatmu gelisah setiap saat.

Sangat menderita berada dalam ketergantungan akan informasi yang meskipun kau sudah apa jawabannya, kau selalu merasa ragu dan mempertanyakannya.

Jadi salah siapa?

Ketika seseorang berkata bohong, tidak berarti semua yang dikatakannya salah. Dan seseorang yang selalu kau percaya berkata jujur, tak menutup kemungkinan ia akan berbohong.

Jadi ketika seseorang yang kau percaya selalu berkata jujur, pada suatu hari berbohong akan 1 hal pada stadium yang cukup berat. Lalu mengulangi hal yang sama lagi dan lagi bahkan pada saat kau mulai memaafkan.

Maka apa kau akan percaya lagi padanya?

Saat orang yang kau tahu akan terbuka padamu hampir pada setiap hal, lalu kau menemukannya tengah menyembunyikan sesuatu yang cukup besar dan tak kau suka darimu. Selalu berkelit, menutupnya dengan rapat dan kau sadar itu.

Apa kau akan tetap percaya pada setiap ucapannya?

Sepertinya aku mulai mengalami krisis kepercayaan terhadap orang-orang di sekelilingku. Bahkan orang-orang yang sudah ku kenal selama bertahun-tahun.

Apa itu normal?

Belajar bersyukur

Hari ini sudah ke2 kalinya aku menjalani pengobatan untuk penyakitku. Berdebar-debar setiap saat, meski tak terasa sakit. Aku memang tak perlu mengkonsumsi obat-obat dengan banyak jenis yang biasa dikonsumsi oleh orang-orang yang menderita sakit sepertiku. Tapi tentu tidak begitu saja aku bebas.

Ada beberapa jenis makanan yang pantang untuk aku makan. Daging, telur, ikan, aku tak boleh makan apapun yang amis-amis seperti itu. Padahal setiap hari itulah yang selalu aku makan. Tak jauh dari daging ayam dan ikan yang menjadi santapanku setiap hari. Jadi, kau tahu bukan bagaimana perasaanku. Tidak boleh memakan apa yang menjadi kesukaanku untuk beberapa lama.

Aku mengeluh pada ibuku. Aku meminta kelonggaran jika aku bisa memakan beberapa makanan kesukaanku meski hanya sekali seminggu. Tapi ibuku berkata, “Kalau mau sembuh, jangan bandel. Sabar”. Aku hanya mendengus sebal. Hanya bisa makan sayuran, apa enaknya, pikirku.

Tak lama aku kembali ke tempat pengobatanku. Ada seorang ibu, mungkin seorang nenek. Ia mengenakan pakaian sederhana dan topi kupluk berwarna merah. Tapi yang jadi perhatianku adalah selang kecil yang menjuntai dan tersambung ke hidungnya.

Aku perhatikan gerak-gerik dan apa yang ia lakukan untuk sesaat. Aku melihat iya mengeluarkan sebuah suntikan yang cukup besar, memasukannya ke sebuah botol air mineral, mengambil beberapa cc air. Ia menyuntikan air tersebut ke selang yang terhubung ke hidungnya tersebut.

Aku kaget saat sadar bahwa yang ia lakukan hanyalah minum. Sebegitu sulit, padahal hanya ingin minum. Dan ia melakukannya sendiri tanpa dibantu oleh keluarga yang padahal ada disekitarnya.

Aku merasa malu dan tak tahu diri. Aku mengeluh hanya karena tak bisa makan makanan kesukaanku sedangkan ada orang lain yang untuk minum saja sulit. Aku masih bisa melakukan kegiatan seperti biasa tapi masih suka dengan manja meminta bantuan kepada ibuku. Padahal ada orang lain yang melakukan semuanya sendiri walaupun sulit.

Ibuku bilang, “Dek, liat dia. Makan dan minum aja harus lewat selang, pasti tersiksa. Tapi dia sabar. Nah kamu? cuma karena ga bisa makan enak, kamu ngerengek. Bersyukur.

Cukup ngerasa “dipukul” dengan kata-kata ibuku. Tapi memang itu kenyataanya.
Aku harus belajar lebih sabar atas apa yang aku jalani dan lebih mensyukuri untuk apa yang aku punya.

Lebih menyadari bahwa, mungkin aku sedang tidak beruntung, tapi banyak orang-orang diluar sana yang jauh lebih tidak beruntung dibanding aku. Jadi jangan iri dengan kenikmatan yang orang lain miliki. Tapi lebih bersyukur lah dengan kenikmatan yang aku miliki.